Polisi Tiongkok Gunakan Kaca Mata Pintar Untuk Deteksi Wajah Kriminal

facial-recognition
Lima tahun yang lalu Google resmi meluncurkan kacamata pintar Google Glass, meski disambut baik oleh penggunanya, tak sedikit pula orang merasa wearable buatan raksasa teknologi mesin pencarian itu adalah produk gagal. 

Terbukti, hanya dalam dua tahun peluncurannya, Google memutuskan untuk menyetop produksi dan penjualan Google Glass di Amerika Serikat. 

Meski begitu, kacamata pintar dikabarkan cukup hits di beberapa negara, salah satunya Tiongkok. Bahkan, kacamata pintar menjadi perangkat wajib digunakan oleh polisi di negeri tirai bambu. 

Mendekati perayaan tahun baru Imlek, polisi China memiliki senjata baru untuk pengawasan berupa sunglasses dengan fitur facial recognition. Menurut media lokal, kacamata tersebut sedang diujicobakan di sebuah stasiun kereta di emerging megacity of Zhengzhou. Sunglasses itu berfungsi memindai traveler yang datang bermigrasi di tahun baru Imlek. 
facial-recognition
Kepolisian Tiongkok awasi migrasi penduduk dengan sunglasses berfitur facial recognition. (Doc: The Wall Street Journal)
Berkat penggunaan kaca mata pintar tersebut, polisi berhasil menangkap 7 tersangka dalam kasus-kasus besar. Sedangkan 26 orang lainnya bepergian menggunakan identitas palsu. Hasil tersebut buah dari keseriusan pemerintah mengembangkan tracking technologies, dengan mengembangkan kecerdasan buatan dalam mengidentifikasi individu di kota. 

Dikutip dari laman WSJ (9/2/2018), smart sunglasses dirancang di Zhengzhou oleh perusahaan LLVision Technology Co., Beijing. Sebagi proyek perdananya berkerjasama dengan pihak kepolisian untuk mengembangkan teknologi yang dibutuhkan saat ini. 

Cara kerja smartwatch ini, kepolisian Tiongkok yang menggunakan kacamata pintar ini hanya perlu melihat seseorang lewat kamera yang terpasang di kacamata pintar. 

Selanjutnya, kamera tersebut akan mengambil foto wajah orang itu, dan membandingkannya dengan database yang ada hanya dalam hitungan detik. 
facial-recognition
Kepolisian Tiongkok mencocokan database menggunakan kacamata pintar (Doc: The Wall Street Journal)
William Nee, seorang peneliti China di International Amnesty mengatakan, "Potensi teknologi facial recognition kepada petugas kepolisian melalui sunglasses akhirnya bisa membuat pengawas negara semakin banyak di mana-mana 

Meski cukup efisien, tidak menutup kemungkinan banyak pihak yang menentang penggunaan kacamata pintar ini oleh pihak kepolisian. 

Banyak yang merasa proses pencarian dan identifikasi ini melanggar privasi seseorang. Apalagi jika orang tersebut bukan penjahat dan tidak melakukan kesalahan apa pun.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel